Liputan6.com, Jakarta Baru-baru ini, kasus penganiayaan anak kembali terjadi. Seperti terlihat dari kasus yang terjadi di Kembangan, Jakarta Barat, di mana seorang pengasuh melakukan kekerasan pada anak, akibat pernah mengalami trauma kekerasan di masa lalu.

Jika kekerasaan atau penganiayaan anak terjadi, masalah ini tidak berakhir hanya sampai kejadian itu terbongkar, dan pelakunya dihukum saja. Anak bisa mengalami trauma, dan orangtua perlu melakukan tindakan lanjutan untuk menyembuhkan trauma anak.

Menurut Darla Spence Coffey, MSW, PhD dalam jurnalnya Parenting After Violence yang ditulis untuk Institute for Safe Families, Philadelphia, Pennsylvania ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan trauma akibat penganiayaan pada anak.

Berikut ini yang telah berhasil dirangkum oleh Liputan6.com pada Kamis (1/2/2018)

1. Rasa aman

Penyembuhan tidak akan terjadi apabila kekerasan terus terjadi.

2. Struktur, rutinitas, dan prediktabilitas

Untuk membangun rasa aman bagi anak termasuk membangun dutinitas yang bisa diprediksi dan memiliki struktur dan batasan. Kekerasan yang tidak terduga mampu merugikan perkembangan kesehatan anak.

Rumah tangga di mana ada kekerasan di dalamnya memiliki struktur yang kaku dan anggota keluarta yang terhambat dalam perilaku maupun ekspresi emosionalnya sangat kacau.

3. Ikatan dengan pengasuh

Penting untuk menjelaskan kepada orangtua tentang pentingnya hubungan anak dengan orang yang mengasuhnya, dalam hal ini, tidak selalu orangtua. Orangtua harus bisa membangun kepercayaan anak, kalau orang yang mengasuhnya akan melindunginya dari berbagai bentuk penganiayaan