TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN – Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, pasien kasus demam berdarah dengue (DBD) di Sumut sepanjang tahun 2018 didominasi oleh anak-anak berumur 15 tahun ke bawah.

Untuk golongan umur 0-14 tahun, jumlah penderita DBD ada sebanyak 2.697 kasus alias hampir 50 persen dari total kasus keseluruhan sebanyak 5.728 kasus.

Angka itu masih akan bertambah jika data jumlah pasien umur 15-an tahun dipisahkan dari data kasus golongan umur 15-44 tahun, yang berjumlah 2.089 kasus.

 

Pada tahun 2019, wabah demam berdarah telah menjangkiti sedikitnya tujuh orang di Sumut. Satu di antaranya meninggal dunia.

Pasien malang itu adalah seorang bocah berusia di bawah 15 tahun asal Kabupaten Mandailing Natal.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, dr Yulia Maryani MKes mengungkapkan, fenomena ini disebabkan beberapa faktor.

Pertama, yaitu faktor waktu aktivitas dari nyamuk Aedes Aegepty (pembawa virus dengue yang menyebabkan DBD) itu sendiri yang kebetulan bersamaan dengan waktu aktivitas anak-anak.

“Nyamuk Aedes Aegepty beraktivitas pada saat hari terang. Pagi hari sekitar pukul 08.00 -11.00 dan sore hari sekitar pukul 15.00 – 17.00,” ujar Yulia saat ditemui di Medan beberapa waktu lalu.

Kemudian faktor kedua ialah kebersihan lingkungan tempat anak-anak beraktivitas

 

“Biasanya di sekolah-sekolah itu terjadi (anak-anak digigit nyamuk Aedes Aegepty). Lingkungan sekolahnya jorok, banyak genangan air, sehingga banyak juga nyamuk,” kata Yulia.

Faktor lainnya, sambung Yulia, ialah lemahnya daya tahan tubuh anak-anak.

“Daya tahan tubuh juga berpengaruh ya, karena DBD ini, bukan saat digigit nyamuk Aedes Aegepty langsung jatuh sakit, tetapi ada masa inkubasinya. Biasanya seminggu setelah digigit nyamuk. Oleh sebab itu, anak-anak, yang umumnya berdaya tahan tubuh lebih rendah ketimbang orang dewasa, lebih gampang terkena,” ungkap Yulia.

Pakar penyakit tropik dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI juga mengatakan hal senada soal ini.

 

“Daya tahan tubuh anak-anak lebih rendah. Nyamuk Aedes menggigit di dalam rumah atau ruangan antara pukul 08-10 pagi. Saat itu, yang berada di dalam rumah adalah anak-anak,” kata Dr Umar. (cr16/tribun-medan.com)

Lakukan Gerakan 3-M Plus

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Provinsi Sumut, dr Yulia Maryani MKes mengatakan, kasus DBD di Sumut cenderung tetap ada, karena kesadaran masyarakat dalam melakukan pencegahan DBD masih rendah.

“Kita sudah giat menganjurkan lewat penyuluhan-penyuluhan untuk melakukan gerakan 3-M Plus, yaitu menutup dan menguras wadah penampungan air bersih, serta mengubur atau mendaur ulang wadah-wadah yang dapat menjadi menampung air,” jelas Yulia.

Langkah tersebut, sambungnya, baik dilakukan agar tidak ada tempat bagi nyamuk Aedes untuk berkembang biak.

“Nyamuk Aedes ini suka air jernih, bukan air kotor,” ungkapnya.

Kemudian, ditambah dengan menggunakan antinyamuk, seperti losion, antinyamuk bakar, dan lain-lain, serta menanam tanaman-tanaman ‘musuh’ nyamuk di sekitar tempat tinggal.

 

“Bunga Lavender dan Serai, aromanya tidak disukai nyamuk,” katanya. (cr16/tribun-medan.com)

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Data Dinkes Sumut Kasus DBD Didominasi Anak-anak, Ini Komentar dr Yulia Maryani, http://medan.tribunnews.com/2019/02/07/data-dinkes-sumut-kasus-dbd-didominasi-anak-anak-ini-pemicunya-dr-yulia-maryani?page=2.
Penulis: Dohu Lase
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay