Sidimpuan, sidaknews.com – Dunia pendidikan adalah bagian penting untuk membimbing moral seorang anak. Dalam kondisi seperti ini maka setiap tenaga pendidik wajib memperhatikan dan mentaati setiap kebijakan-kebijakan di sekolah untuk memberi pendidikan moral kepada muridnya dengan penuh konsistesi. Dengan demikian diharapkan para murid bisa meneladani sifat seorang pendidik tersebut.

Namun sangat disayangkan, ada juga beberapa oknum pendidik yang kurang memahami hal tersebut, salah satu contoh yang paling pelik adalah seorang tenaga pendidik tidak menghiraukan larangan merokok di lingkungan sekolah, hal larangan tersebut sudah tertuang dalam Permendikbud Nomor 64 Tahun 2015 Tentang Kawasan Tanpa Rokok Di Lingkungan Sekolah. Hal ini dilakukan agar para siswa tidak mencontoh hal tersebut.

Namun sampai saat ini masih ada juga beberapa oknum pendidik yang kurang memahami peraturan tentang larangan merokok tersebut.

Menurut pengakuan beberapa Murid SMP di Kota Padangsidimpuan bahwa masih saja ada oknum guru yang mau merokok dalam kelas saat mengajar. Hal tersebut disampaikan kepada Juli Zega (Divisi Advokasi Yayasan Burangir) pada saat menjadi pembicara untuk acara sosialisasi tentang undang-undang perlindungan anak tingkat SMP yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Kami selalu diajarkan dan dihimbau supaya jangan merokok tetapi mengapa masih saja ada guru yang merokok sambil mengajar dalam kelas? Tanya salah satu peserta dari salah satu anak SMP di Kota Padangsidimpuan kepada Juli.

Dalam kesempatan itu Juli langsung kaget mendengar keluhan siswa tersebut dan merasa kecewa dengan oknum guru tersebut. Menurut Juli seharusnya oknum guru tersebut lebih paham mematuhi segala aturan di sekolah mengingat kedisplinan di lingkungan sekolah sangat tinggi. Terlebih bahaya merokok sudah jelas-jelas diketahui bersama baik perokok aktif maupun perokok pasif.

“Bayangkan ketika seorang guru mengajar sambil merokok dan anak didiknya ikut menghisap asap rokok itu, sungguh tidak beretika dan manusiawi, kemudiam kita sudah ada Peraturan Daerah yang mengatur kawasan tanpa rokok salah satunya sekolah dan saya yakin itu sudah diedarkan ke setiap sekolah namun kenapa masih saja ada oknum guru yang tidak menaatinya. Lalu bagaimana kita mendidik moral anak-anak kita lagi kalau kita sebagai pendidik saja tak bisa menjalankan aturan itu” tutur Juli.

Beliau juga menambahkan bahwa fenomena anak SMP hari ini sangat beda dan itu dibuktikan dimana hampir di setiap sekolah yang Dia kunjungi rata-rata siswa laki-lakinya telah menikmati yang namanya rokok dan juga ngelem. Lalu bagaimana seorang guru dapat mencegah muridnya untuk tidak terjerumus ke perilaku buruk tersebut apabila guru saja melanggar aturan yang ada.

“Saya harapkan kesadaran kita semua dalam menjunjung tinggi moralitas diri dan Pemerintah Kota Padangsidimpuan khususnya Dinas Pendidikan untuk lebih memberi penegasan ke sekolah-sekolah supaya lingkungan sekolah bebas rokok itu benar-benar di implementasikan karena kita saat ini sedang giatnya juga berjuang untuk mewujudkan sekolah ramah anak” tutu Juli. (sabar/jZ_03)